Pluginify

Masuk Daftar
Home > Blog > Tips & Tricks > Tips Deploy Website Agar Stabil, Aman, dan Siap Produksi

Tips Deploy Website Agar Stabil, Aman, dan Siap Produksi

Tips Deploy Website Agar Stabil, Aman, dan Siap Produksi

Proses deploy website merupakan tahapan krusial dalam siklus pengembangan aplikasi web. Kesalahan kecil pada tahap ini dapat menyebabkan gangguan layanan, kebocoran data, hingga penurunan kepercayaan pengguna. Oleh karena itu, memahami tips deploy website yang benar sangat penting agar website dapat berjalan optimal di lingkungan produksi.

Artikel ini akan membahas secara komprehensif langkah-langkah penting, praktik terbaik, serta contoh teknis yang dapat diterapkan sebelum dan sesudah deploy website.


1. Pastikan Lingkungan Produksi Terpisah dari Development

Salah satu kesalahan umum adalah menggunakan konfigurasi yang sama antara environment development dan production. Idealnya, website memiliki minimal tiga environment:

  • Development – untuk proses pengembangan
  • Staging – untuk uji coba sebelum rilis
  • Production – untuk pengguna akhir

Contoh konfigurasi environment pada aplikasi berbasis PHP (Laravel):

APP_ENV=production
APP_DEBUG=false
APP_URL=https://domainanda.com

Menonaktifkan mode debug di production merupakan langkah wajib demi keamanan dan performa.


2. Gunakan Version Control Sebelum Deploy

Version control seperti Git membantu melacak perubahan kode dan memudahkan rollback jika terjadi kesalahan. Pastikan hanya branch yang stabil (misalnya main atau release) yang dideploy ke server production.

Contoh alur deploy sederhana:

git checkout main
git pull origin main

Dengan praktik ini, risiko deploy kode yang belum siap dapat diminimalkan.


3. Optimasi Konfigurasi Server

Optimasi server merupakan bagian penting dari tips deploy website agar performa tetap stabil meskipun trafik meningkat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Aktifkan compression (Gzip atau Brotli)
  • Gunakan caching (OPcache, Redis, atau Memcached)
  • Atur permission file dengan benar

Contoh permission dasar untuk aplikasi web:

chmod -R 755 public
chmod -R 775 storage bootstrap/cache

Permission yang salah dapat menyebabkan error atau celah keamanan.


4. Lakukan Build dan Optimasi Asset

Untuk website modern yang menggunakan JavaScript framework atau CSS preprocessor, proses build wajib dilakukan sebelum deploy.

Contoh build asset menggunakan Node.js:

npm install
npm run build

Pastikan file hasil build yang diupload ke server adalah file final, bukan source mentah.


5. Gunakan HTTPS dan Konfigurasi Keamanan Dasar

Website production wajib menggunakan HTTPS untuk melindungi data pengguna. Selain itu, aktifkan beberapa header keamanan penting.

Contoh konfigurasi header keamanan di server:

Header always set X-Frame-Options "SAMEORIGIN"
Header always set X-Content-Type-Options "nosniff"
Header always set Referrer-Policy "strict-origin"

Langkah ini membantu mencegah serangan seperti clickjacking dan MIME sniffing.


6. Jalankan Database Migration dengan Aman

Jika website menggunakan database, pastikan migration dijalankan dengan hati-hati, terutama pada data penting.

Contoh migration pada Laravel:

php artisan migrate --force

Gunakan flag --force hanya di environment production dan pastikan sudah melakukan backup database sebelumnya.


7. Aktifkan Logging dan Monitoring

Logging membantu mendeteksi error yang tidak terlihat oleh pengguna. Monitoring server juga penting untuk mengetahui penggunaan resource.

Contoh konfigurasi logging dasar:

LOG_CHANNEL=stack
LOG_LEVEL=error

Dengan logging yang baik, proses troubleshooting menjadi lebih cepat dan terarah.


8. Lakukan Testing Setelah Deploy

Setelah deploy selesai, lakukan pengujian menyeluruh, antara lain:

  • Cek halaman utama dan halaman penting
  • Uji form dan proses transaksi
  • Pastikan tidak ada error 500 atau broken link

Testing pasca-deploy sering kali diabaikan, padahal merupakan bagian vital dari tips deploy website yang profesional.


9. Siapkan Mekanisme Rollback

Rollback memungkinkan website kembali ke versi sebelumnya jika terjadi masalah serius. Strategi rollback dapat berupa:

  • Backup file sebelum deploy
  • Backup database harian
  • Menggunakan tag atau release version di Git

Contoh rollback Git sederhana:

git checkout v1.2.0

Kesimpulan

Deploy website bukan sekadar memindahkan file ke server, melainkan proses terstruktur yang membutuhkan persiapan teknis dan strategi matang. Dengan menerapkan tips deploy website yang tepat, risiko downtime, error, dan masalah keamanan dapat diminimalkan.

Website yang dideploy dengan baik akan lebih stabil, aman, dan siap melayani pengguna secara optimal dalam jangka panjang.

Pluginify
Pluginify